Tambak Milenial Situbondo, Penggerak Ekonomi Rakyat

  • Bagikan
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono saat menghadiri panen tambak milenial

Mediatani – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mondorong produksi perikanan budidaya guna mewujudkan Indonesia sebagai produsen akuakultur terbesar di dunia, khususnya komoditas udang vaname yang ditargetkan mengalami peningkatan 250% hingga tahun 2024.

Salah satu upaya yang dilakukan KKP yaitu melalui Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) membuat Tambak milenial atau Millenial Shrimp Farming (MSF) Situbondo sebagai bagian dari program percontohan budidaya udang vaname.

Program MSF Situbondo yang melibatkan kaum milenial ini mampu menggerakkan ekonomi masyarakat yang berada di Desa Gundil, Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur.

Kepala BPBAP Situbondo, Nono Hartanto memaparkan bahwa produksi tambak MSF di Situbondo ini ditargetkan sebanyak 1,5 ton per kolam atau 30 ton per hektare per siklus. Menurutnya, pihaknya terus berupaya mewujudkan usaha budidaya rakyat dalam bentuk klaster dengan skala ekonomi.

“Minimal 60 unit kolam dengan 60 pembudidaya, dan hal itu diharapkan dapat menjamin peningkatan kesejahteraan pembudidaya dengan pendapatan 5 juta/bulan,” jelas Nono pada Selasa (16/3/2021) saat panen tambak milenial yang dihadiri Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono.

Selain itu, BPBAP Situbondo juga telah membentuk kelembagaan usaha profesional ( corporate farming ). Stakeholder lembaga tersebut terdiri dari rakyat (pembudidaya) yang tergabung dalam Koperasi, BUMDES dan Swasta Profesional.

Baca Juga :   Harga Gabah Melonjak Di Bulan Oktober 2017

Sebagai informasi, MSF Situbondo ini merupakan kolam bundar berdiameter 20 m yang menerapkan inovasi teknologi budidaya yang dapat dibongkar pasang dengan padat penebaran mulai dari 250 ekor per meter2.

Lebih lanjut, Nono menngungkapkan bahwa inovasi yang diterapkan pada MSF Situbondo ini berupa digitalisasi tambak yang yang meliputi penyediaan CCTV, pengukur kualitas air, automatic feeder serta ruang data.

Dalam inovasinya, tambah Nono, MSF memanfaatkan teknologi berbasis industri 4.0, dimana kolam tersebut menggunakan automatic feeder, water quality monitoring, nanobubble, oksigen murni yang dilengkapi aplikasi budidaya berbasis data (smart farming).

Sementara itu, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto menjelaskan bahwa konsep tambak milenial tersebut memiliki berbagai keunggulan dengan tetap memperhitungkan keberlanjutan lingkungan dan keberlanjutan usaha.

Slamet merincikan konstruksi MSF ini lebih murah dibandingkan dengan tambak konvensional, operasional lebih mudah, manajemen risikonya lebih rendah, dan menerapkan digitalisasi data operasional.

“Dan yang tak kalah penting, dapat memperhitungkan keberlanjutan usaha dan lingkungan. Karena dalam satu klasternya harus memiliki unit pengolahan limbah,  kolam tandon dan juga kolam sedimentasi,” urai Dirjen Slamet.

Program MSF ini sesuai dengan program yang dicanangkan Menteri Trenggono, yaitu pengembangan perikanan budidaya untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. Untuk mewujudkan hal itu, perlu dilakukan pengembangan perikanan budidaya yang didukung kajian ilmiah dan perencanaan bisnis yang matang.

Baca Juga :   Tasikmalaya Defisit Ikan Hingga Belasan Ton Per Hari

“Seperti kita ketahui, perikanan budidaya mendapat perhatian Presiden Joko Widodo. KKP mendapat mandat untuk mengoptimalkan produksi perikanan budidata, sebanding dengan potensi yang dimiliki,” ujar Menteri Trenggono.

Menteri Trenggono juga menerangkan bahwa saat ini KKP fokus untuk mendorong produk eskpor komoditas unggulan Indonesia yang memiliki nilai ekonomis tinggi, seperti udang, lobster dan rumput laut.

Menurutnya, udang dipilih menjadi salah satu komuditas prioritas berdasarkan data ekspor periode 2020, dimana, volume ekspor udang Indonesia mencapai hingga 239.227 ton dengan nilai US$2,04 miliar.

“Diperlukan para kaum milenial yang memiliki kreativitas dan inovasi yang tinggi terutama dalam dunia industri 4.0. Kita ini punya potensi besar, sehingga perlu kita libatkan kaum milenial untuk mengenal dan terjun langsung dalam dunia akuakultur, ” terang Trenggono.

Menindaklanjuti hal tersebut, BPBAP Situbondo terus berupaya mengoptimalkan produksi perikanan budidaya, serta bertekad untuk mencetak lebih banyak petambak milenial yang diharapkan nantinya dapat terus meningkatkan taraf ekonomi masyarakat sekitar dan bisa menjadi percontohan bagi daerah lain.

  • Bagikan