Kacang Mete

Mediatani – Jambu mete atau jambu monyet terdiri dari dua bagian buah, yakni buah semu dan buah sejati. Bagian daging lunak yang membesar, berair, dan berwarna kuning hingga kemerahan, yang biasa dikenal sebagai buah, bukanlah merupakan buah dari jambu monyet yang sesungguhnya, tapi disebut sebagai buah semu.

Bagian buah semu ini sebenarnya adalah tangkai buah yang membesar. Sedangkan, bagian yang biasa kita anggap sebagai biji (kacangnya) justru merupakan bagian buah yang sesungguhnya (buah sejati).

Kacang ini merupakan biji tunggal yang diselimuti oleh cangkang ganda dan menghasilkan getah yang mengandung urushiol. Senyawa urushiol dapat menyebabkan iritasi pada kulit manusia.

Maka dari itu, ada orang-orang tertentu yang alergi pada kacang mete, walaupun kejadian ini lebih jarang ditemukan dibandingkan dengan alergi jenis kacang lain.

Manfaat kacang mete

Kacang mete mempunyai tekstur yang keras, mempunyai warna coklat kehitaman berisi biji yang dapat diolah menjadi makanan. Kacang mete juga dapat diekstrak menjadi minyak yang berkualitas tinggi.

Hasil sampingannya, yakni kulit biji, dapat dimanfaatkan untuk pakan unggas. Sejenis minyak juga dihasilkan dari cangkang buah mete (cashew nut shell liquid), yang dipakai dalam industri dan juga sebagai bahan untuk mengawetkan kayu atau jala.

Kacang mete kaya akan asam folat, seng, magnesium, serat, vitamin dan mineral. Kacang mete dapat mengurangi sakit kepala migrain, kram otot, dan menurunkan tekanan darah.

Pengolahan kacang mete

Pengolahan gelondong menjadi mete siap konsumsi dimulai dengan pemilihan gelondong, penjemuran, pengupasan (pengacipan), penyangraian, pelepasan kulit ari (testa), sortasi dan grading, dan diakhiri dengan pengemasan.

Pemilihan mete gelondongan

Pemilihan mete gelondongan untuk memisahkan mete yang bermutu dapat dilakukan sebelum atau sesudah penjemuran. Mete gelondongan yang berkecambah, rusak, tidak sempurna bentuknya, dan kerusakan lainnya dipisahkan dengan mete yang sehat.

Penjemuran mete gelondongan

Tujuannya adalah untuk memudahkan pengolahan pada saat pengacipan mete gelondongan. Mete gelondongan dengan kadar air yang tinggi menyebabkan hasil olahan banyak yang tidak utuh dan mete olahan tercemari minyak kulit mete yang mengganggu tenggorokan saat mengkonsumsi mete nantinya.

Pada proses penjemuran pelaku industri hanya menggunakan tenaga sinar matahari. Mete gelondongan dijemur dipanas terik selama kira-kira dua hari dan diperkirakan kadar air 8-6%.

Mete gelondongan tidak bisa dikeringkan melebihi batas yang ditentukan antara 8-6% karena mete gelondongan yang terlalu kering akan menyebabkan mete akan mudah patah pada saat pengacipan sehingga banyak hasil olahan yang tidak utuh.

Pengupasan (pengacipan)

Masalah utama dalam pengolahan mete adalah pengupasan kulit gelondong. Bentuk gelondong umumnya memiliki bentuk tidak teratur serta kulitnya licin. Selama pengolahan mete tidak boleh terkontaminasi minyak kulit mete yang akan mengakibatkan biji mete kecoklatan dan menurunkan kualitas mete yang dihasilkan.

Baca Juga  Teknik Daisugi, Cara Menanam Pohon di Lahan Sempit dari Negeri Sakura

Selama ini pengupasan gelondong masih dilakukan secara manual dengan menggunakan kacip sederhana. Kacip merupakan alat pengupas gelondong mete yang dirancang untuk mengatasi berbagai masalah dalam pengupasan gelondong.

Penyangraian

Pengeringan dilakukan setelah mete dikupas, tujuannya mengurangi kadar air hingga 3% dan untuk mempermudah pengupasan kulit ari biji mete (testa). Pengeringan bisa dengan matahari atau dengan cara mekanis.

Pengeringan dengan sinar matahari dilakukan hingga kulit arinya dapat dikelupas dengan tangan. Keuntungan dari pengeringan dengan matahari adalah biji mete tidak gosong dan kualitas yang baik.

Kelemahannya, biji mete dengan kadar air lebih dari 3% menjadi sangat rapuh (hancur), sedangkan dengan cara mekanis dapat dilakukan pada suhu optimum 70°C selama 4 – 8 jam. Hasilnya, kualitas baik dengan kadar air ± 3 %.

Pelepasan kulit ari (testa)

Pengupasan kulit ari dilakukan segera setelah dikeringkan. Pengupasan dapat secara manual dan cara lain yang dapat dilakukan petani, yaitu proses gabungan antara penggorengan bersama-sama dengan pengupasan.

Sortasi dan grading

Dasar sortasi dan grading adalah keadaan, ukuran dan warna. Berdasarkan keadaan biji mete dapat dibedakan 6 golongan, yaitu :

  1. Biji mete utuh (whole kernels) yaitu biji mete utuh seluruhnya, tanpa cacat,
  2. Biji mete sedikit utuh (butts kernels) yaitu biji mete yang sebagian kecil sudah pecah.
  3. Biji mete belahan (split kernels) yaitu biji mete setengah utuh atau merupakan belahan biji mete yang utuh,
  4. Biji mete remukan besar (large pieces kernels) yaitu biji mete yang pecah lebih dari dua bagian dengan ukuran di atas 0,6 cm,
  5. Biji mete remukan kecil (small pieces kernels), yaitu biji mete yang pecah/remuk dengan ukuran 0,4 – 0,5 cm, dan
  6. Biji mete remukan halus (baby bits kernels) yaitu biji mete yang pecah/remuk halus.

Biji mete yang didapat berdasarkan warna, yaitu:

  1. Biji mete putih (white kernels) yaitu biji mete berwarna putih bersih, tidak terdapat bercak berwarna coklat atau hitam,
  2. Biji mete agak putih (fancy kernels) yaitu biji mete berwarna agak putih atau agak gosong,
  3. Biji mete setengah gosong (desserts kernels) yaitu biji mete setengah gosong atau bercak-bercak hitam, dan
  4. Biji mete gosong (scorched kernels) yaitu biji mete yang gosong berwarna coklat muda sampai coklat akibat pemanasan yang berlebihan

Pengemasan

Pengemasan perlu segera dilakukan karena biji mete mudah sekali rusak. Kemasan dapat berupa peti, kaleng, dan plastik kemas dalam keadaan tanpa udara. Pengemasan tidak dapat meningkatkan atau memperbaiki mutu, tetapi hanya mempertahankan atau melindungi mutu produk yang dikemas.

Oleh karena itu, hanya produk yang baik yang perlu dikemas. Produk yang rusak atau busuk yang ada dalam kemasan akan menjadi kontaminasi dan infeksi bagi produk yang masih sehat, akibatnya produk tidak laku di pasaran.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here