Home / Inspiratif

Rabu, 11 Maret 2015 - 20:23 WIB

Memahami Zakat Pertanian Dalam Islam

MediaTani – Zakat pertanian merupakan sesuatu yang jarang difahami oleh banyak orang. Selain jumlah petani yang semakin berkurang, zakat pertanian sangat jarang dibahas di kalangan petani. Dari dasar tersebut kali ini redaksi mediatani mencoba membahas tentang Zakat Pertanian dan segala yang berkaitan dengannya dari berbagai sumber.

 

Ilustrasi Zakat Pertanian -[www.islam.ru]
Zakat Hasil pertanian merupakan salah satu jenis Zakat Maal, obyeknya meliputi hasil tumbuh-tumbuhan atau tanaman yang bernilai ekonomis seperti biji-bijian, umbi-umbian, sayur-mayur, buah-buahan, tanaman hias, rumput-rumputan, dedaunan, dll.

Allah swt berfirman dalam surah Al-An’am, ayat 141: “Makanlah dari buahnya (yang bermaca-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya dihari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. 6:141)

Lantas, Bagaimana cara menghitung Zakat Pertanian itu seperti apa? Ust. Abdul Rochim, LC. MA dalam sebuah laman zakat dompet dhuafa menjawab pertanyaan serupa. Berikut jawaban beliau mengenai Cara menghitung Zakat Pertanian:

 

Baca Juga :   Ekspor Buah Manggis Ke China Kembali Menggeliat

Sebagian besar ulama sepakat bahwa nishab zakat pertanian adalah 5 wasaq. Sedangkan sebagian ulama hanafiah berpendapat bahwa zakat pertanian tidak memerlukan ketentuan nishab. 5 wasaq sendiri bila dihitung dengan kilogram, para ulama berbeda pendapat. Pendapat yang paling populer adalah pendapat syaikh Yusuf Al-Qardhawi bahwa 5 wasaq itu kurang lebih = 653 kg.

Adapun terkait dengan pengeluaran zakat pertanian, apakah dikeluarkan hasil bersih atau hasil kotor, ulama syafi’iah berpendapat bahwa zakat pertanian dikeluarkan dari hasil kotor. Hasil kotor disini maksudnya adalah; tanpa dikurangi hutang, beban biaya dan sebagainya. Nilai panen x nilai wajib zakat.
Sedangkan sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa zakat pertanian dikeluarkan setelah dikurangi hutang bila petani itu harus berhutang untuk membiayai pertaniannya. Tentu saja syaratnya ia tidak memiliki uang atau harta lain yang berlebih yang bisa ia gunakan untuk membayar hutang. Apabila ia memiliki harta lebih dari kebutuhan pokok, walau pun berbentuk property, maka hutang itu tidak menjadi pengurang kewajiban zakat.

Wallahu’alam, semoga kita semua tetap dalam lindungan-Nya dan diberkahi rezeki berlimpah dari lahan pertanian kita.

Share :

Baca Juga

Inspiratif

Seorang Babinsa Dicopot Lantaran Tidak Tahu Swasembada Pangan

Inspiratif

Mahasiswa Pertanian Universitas Nasional Galang Koin Untuk Australia

Inspiratif

Petani Bisa Jualan di Toko Online Pertanian Oleh Kementan

Inspiratif

Sulawesi Selatan Masih Kekurangan Tenaga Penyuluh Pertanian

Inspiratif

Tidak Ada Impor Beras Di Tahun 2015

Inspiratif

HS Dillon; Pertanian Di Ambang Keterpurukan

Inspiratif

Petani Merauke Keluhkan Ke Mentan Rendahnya Harga Gabah

Inspiratif

Berpanas-panasan di Sawah, Luna Maya Tuai Pujian dari Netizen