Hama Tanaman Cabai

Mediatani – Salah satu faktor penghambat peningkatan produksi cabai adalah adanya serangan hama dan penyakit yang fatal. Kehilangan hasil produksi cabai karena serangan penyakit busuk buah (Colletotrichum spp), bercak daun (Cerospora sp) dan cendawan tepung (Oidium sp) berkisar 5-30%.

Strategi pengendalian hama dan penyakit pada tanaman cabai dianjurkan penerapan pengendalian secara terpadu. Beberapa hama yang paling sering menyerang dan mengakibatkan kerugian yang besar pada produksi cabai sebagai berikut:

Hama tanaman cabai dan pengendaliannya

  1. Thrips (Thrips parvispinus Karny)

Pada umumnya hama ini berkembang pesat dimusim kemarau, sehingga populasi lebih tinggi sedangkan pada musim penghujan populasinya akan berkurang karena banyak thrips yang mati akibat tercuci oleh air hujan.

Thrips

Hama ini menyerang tanaman dengan menghisap cairan permukaan bawah daun (terutama daun-daun muda). Serangan ditandai dengan adanya bercak-bercak putih/keperak-perakan.

Daun  yang terserang berubah warna menjadi coklat tembaga, mengeriting atau keriput dan akhirnya mati. Pada serangan berat menyebabkan daun, tunas atau pucuk menggulung ke dalam dan muncul benjolan seperti tumor, pertumbuhan tanaman terhambat dan kerdil bahkan pucuk tanaman menjadi mati.

Pengendalian;

  • Kultur Teknis
    – Penggunaan mulsa plastik yang dikombinasikan dengan tanaman perangkap. Cara ini cukup efektif untuk menunda serangan yang biasanya terjadi pada umur 14 HST. Penggunaan mulsa plastik juga dapat mencegah infeksi kutu daun dari luar pertanaman dan mencegah thrips mencapai tanah untuk berpupa, sehingga daur hidup thrips menjadi terputus.
    – Sanitasi dan pemusnahan bagian tanaman yang terserang thrips.
    – Tidak menanam tanaman inang (Famili Solanaceae)
  • Fisik Mekanis
    Penggunaan perangkap likat warna biru atau putih sebanyak 40 buah per ha atau 2 buah per 500 m2, dan dipasang sejak tanaman berumur 2 minggu. Perangkap likat dapat dibuat dari potongan paralon berdiameter 10 cm dan panjang + 15 cm, kemudian di cat putih atau biru, digantungkan di atas tanaman cabai. Lem yang digunakan berupa lem kayu yang diencerkan atau vaselin, lem dipasang setiap seminggu sekali.
  • Hayati
    Pemanfaatan musuh alami yang  potensial untuk mengendalikan hama thrips, antara lain predator kumbang Coccinellidae, tungau, predator larva Chrysopidae, kepik Anthocoridae dan patogen Entomophthora sp.
  • Kimiawi
    Pestisida digunakan apabila populasi hama atau kerusakan tanaman telah mencapai ambang pengendalian (serangan mencapai lebih atau sama dengan 15% per tanaman contoh) atau cara-cara pengendalian lainnya tidak dapat menekan populasi hama. Pengendalian juga dapat dilakukan dengan menggunakan pestisida alami antara lain yang berasal dari gadung (Diascorea hispida).
  1. Tungau Kuning ( Polyphagotarsonemus latus Banks.)

Tungau Kuning

Hama menghisap cairan tanaman dan menyebabkan kerusakan, sehingga terjadi perubahan bentuk menjadi abnormal seperti daun menebal dan perubahan warna daun menjadi menjadi tembaga/kecoklatan, terpuntuir, menyusut serta keriting, tunas dan bunga gugur. Pada awal musim kemarau biasanya serangan bersamaan dengan serangan trips dan kutu daun.

Pengendalian;

  • Kultur Teknis
    Sanitasi dengan memusnahkan tanaman terserang
  • Hayati
    Pemanfaatan musuh alami atau predator (Amblyseius cucumeris)
  • Kimiawi
    Apabila cara lain tidak dapat menekan populasi hama, dapat diaplikasikan dengan pestisida efektif dan  terdaftar dan apabila berdasarkan hasil pengamatan intensitas serangan ≥ 15% per tanaman contoh.
  • Lalat Buah (Bactrocera sp)

Buah cabai merah yang terserang ditandai dengan adanya lubang titik hitam pada bagian pangkal buah, tempat serangga betina meletakkan telurnya. Jika buah cabai dibelah, didalamnya terdapat larva lalat buah.

Larva tersebut membuat saluran di dalam buah dengan memakan daging buah serta menghisap cairan buah dan menyebabkan terjadinya infeksi oleh OPT lain sehingga buah menjadi busuk dan gugur  sebelum larva berubah menjadi pupa.

Serangan berat terjadi pada musim hujan, disebabkan oleh bekas tusukan ovipositor serangga betina terkontaminasi oleh bakteri sehingga buah yang terserang menjadi busuk dan jatuh ke tanah.

Pengendalian;

  • Fisik mekanis
    – Tanah dicangkul atau dibajak sehingga kepompong lalat buah yang ada di dalam tanah akan mati terkena sinar matahari.
    – Mengumpulkan buah yang terserang kemudian dimusnahkan dengan cara dibakar.
  • Hayati
    – Penggunaan perangkap dengan atraktan misalnya metil eugenol (ME) atau petrogenol sebanyak 1 ml/perangkap. Jumlah perangkap yang dibutuhkan 40 buah/Ha atau 2 buah per 500 m2. Perangkap dipasang pada saat tanaman berumur 2 minggu sampai akhir panen dan atraktan diganti setiap 2 minggu sekali.
    – Pelepasan serangga jantan mandul yang telah diradiasi dilepas ke lapangan dalam jumlah besar sehingga diharapkan dapat mengurangi keberhasilan perkawinan dengan lalat fertil dan akhirnya populasi lalat buah dapat berkurang.
    – Pemanfaatan musuh alami yang potensial untuk mengendalikan hama lalat buah, antara lain parasitoid larva dan pupa (Biosteres sp, Opius sp), predator semut, Arachnidae (laba- laba), Staphylinidae (kumbang) dan Dermatera (Cocopet).
  • Penggunaan Varietas tahan
    Beberapa varietas yang agak tahan terhadap serangan hama lalat buah, yaitu Tombak 1, Tombak 2, Nenggala 1 dan Cemeti 1.
  • Kimiawi
    Pengendalian secara kimiawi dilakukan apabila cara-cara pengendalian lainnya tidak dapat menekan populasi hama, sehingga digunakan pestisida yang efektif, terdaftar dan sesuai anjuran.
  1. Kutu Daun Persik (Myzus persicae Sulz)

Tanaman yang terserang kutu daun persik menjadi keriput, pertumbuhan tanaman kerdil, warna daun kekuningan, terpuntir, layu dan akhirnya mati. Kutu daun ini merupakan vektor lebih dari 150 strain virus, terutama penyakit virus CMV dan PVY.

Baca Juga  Cara Membuat Bibit Bawang Merah Dengan Umbi Dan Biji
Kutu Daun Persik

Ledakan hama biasanya terjadi pada musim kemarau. Hama ini hidupnya berkelompok dan berada di bawah permukaan daun. Menyerang tanaman dengan cara menghisap cairan daun muda dan bagian pucuk tanaman.

Cairan yang dikeluarkan  kutu  daun ini mengandung madu yang dapat mendorong tumbuhnya cendawan jelaga pada daun sehingga menghambat proses fotosintesis.

Pengendalian;

  • Kultur teknis
    – Melakukan eradikasi gulma dan bagian-bagian tanaman yang terserang, kemudian dibakar
    – Tumpangsari cabai merah dengan bawang daun, dapat menekan serangan hama kutu daun persik karena bawang daun bersifat sebagai pengusir hama
    – Penggunaan tanaman perangkap, seperti tanaman caisin yang ditanam di sekeliling tanaman cabai merah, karena caisin lebih disukai oleh kutu daun persik daripada tanaman cabai. Jika populasi hama cukup tinggi, dilakukan penyemprotan pestisida pada tanaman perangkap saja (caisin).
  • Fisik mekanis
    – Penggunaan kain kasa pada bedengan persemaian maupun di sekitar pertanaman
    – Penggunaan perangkap air berwarna kuning. Perangkap yang dibutuhkan sebanyak 40 buah per ha atau 2 buah per 500 m2, dipasang pada saat tanaman cabai berumur 2 minggu.
  • Hayati
    – Musuh alami yang potensial menyerang kutu daun persik di lapangan antara lain parasitoid Aphidius sp, predator kumbang Coccinella transversalis, Menocvhillus sexmaculata, larva Microphis lineata, Veranius sp dan patogen Entomopthora sp.
  • Kimiawi
    Apabila jumlah kutu daun lebih dari 7  ekor per 10 daun contoh atau kerusakan tanaman lebih dari 15% per tanaman contoh dapat digunakan pestisida yang efektif, terdaftar dan sesuai anjuran. Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada senja hari.
  1. Ulat grayak (Spodoptera litura F.)

Larva instar 1 dan 2 merusak daun dan buah dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis daun bagian atas dan yang tinggal hanya tulang-tulang daun. Larva instar lanjut merusak tulang daun ditandai dengan gundulnya daun, kadang-kadang larva menyerang buah cabai.

Ulat Grayak

Larva biasanya berada di permukaan bawah daun dan menyerang secara serentak dan  berkelompok. Gejala serangan pada buah cabai ditandai dengan timbulnya lubang  yang tidak beraturan pada permukaan buah.

Pada serangan berat menyebabkan tanaman gundul karena daun dan buah habis dimakan ulat. Umumnya serangan berat terjadi pada saat musim kemarau.

Pengendalian;

  • Kultur teknis
    – Sanitasi lahan dengan cara membersihkan gulma dan sisa tanaman yang dapat menjadi sumber infeksi.
    – Pengolahan lahan yang intensif dan saluran air (drainase) yang baik.
    – Eradikasi selektif dilakukan terhadap kelompok telur Spodoptera sp yang dijumpai pada pertanaman cabai merah.
  • Fisik mekanis
    – Pemusnahan kelompok telur, larva atau pupa dan bagian tanaman yang terserang.
    – Penggunaan perangkap feromonoid seks untuk ngengat Spodoptera litura sebanyak 40 buah per Ha atau 2 buah per 500 m2. Pemasangan perangkap dilakukan sejak tanaman berumur 2 minggu.
  • Hayati
    Pemanfaatan patogen Sl. NPV (Spodoptera litura-Nuclear Polyhedrosis Virus), Sl. Bx 9, cendawan cordisep, Nematoda steinerma, predator Sycanus sp, parasitoid Apanteles sp, Telenomus Spodopterae dan Peribeae sp.
  • Kimiawi
    Jika intensitas kerusakan daun akibat serangan ulat grayak telah mencapai lebih atau sama dengan 12,5% per tanaman contoh, maka pertanaman cabai disemprot dengan pestisida sesuai yang dianjurkan.
  1. Kutu Kebul (Bemisia tabaci)

Serangan pada daun berupa bercak nekrotik, akibat serangan nimfa dan serangga dewasa. Pada saat populasi tinggi, serangan kutu kebul dapat menghambat pertumbuhan tanaman.

Kutu Kebul

Sekresi yang dikeluarkan oleh kutu Kebul dapat menimbulkan serangan jamur jelaga yang berwarna hitam, menyerang berbagai stadia tanaman.

Pengendalian;

  • Pemanfaatan musuh alami: predator yang diketahui efektif terhadap kutu kebul, antara lain Menochilus sexmaculatus (mampu memangsa larva Bemisia tabaci sebanyak 200 – 400 larva/hari), Coccinella septempunctata, Scymus syriacus, Chrysoperla carnea, Scrangium parcesetosum, Orius albidipennis, dll. Parasitoid yang diketahui efektif menyerang B. tabaci adalah Encarcia adrianae (15 species), E. tricolor, Eretmocerus corni (4 species), sedangkan jenis patogen yang menyerang B. tabaci, antara lain Bacillus thuringiensis, Paecilomyces farinorus dan Eretmocerus.
  • Penggunaan perangkap
    Penggunaan perangkap likat dapat dipadukan dengan pengendalian secara fisik/mekanik dan penggunaan insektisida secara selektif. Dengan cara tersebut populasi hama dapat ditekan dan kerusakan yang ditumbulkannya dapat dicapai dalam waktu yang relatif lebih cepat.
  • Penggunaan Companion planning Beberapa jenis tanaman dapat digunakan untuk mengurangi serangan kutu Kebul, antara lain tumpangsari antara cabai dengan tagetes, penanaman jagung atau gandum disekitar tanaman cabai.
  • Penggunaan pestisida selektif.
    Beberapa insektisida yang  diketahui efektif untuk mengendalikan kutu kebul, antara lain Permethrin, Amitraz, Fenoxycarb, Imidacloprid, Bifenthrin, Deltamethrin, Buprofezin, Endosulphan dan asefat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here