Home / Nasional

Jumat, 15 September 2017 - 18:16 WIB

Capai Swasembada, Kementan Genjot Ekspor Komoditi

Mediatani.co – Kementerian Petanian (Kementan) mengklaim target Swasembada semakin terlihat. Bahkan, untuk beberapa komoditi, seperti beras, cabai segar, bawang konsumsi, pakan ternak, Indonesia tidak lagi melakukan impor.

“Tidak ada impor berarti kita telah swasembada pada komoditi tersebut. Untuk bawang merah, kita kini malah mengekspor,” ujar Plt Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian, Suwandi, Kamis (14/9/2017) petang.

Suwandi menerangkan keberhasilan swasembada dan ekspor merupakan langkah meyakinkan Indonesia dalam mewujudkan visi lumbung pangan dunia pada 2045. Langkah selanjutnya adalah swasembada bawang putih dan gula konsumsi pada 2019, kedelai pada 2020, gula industri pada 2024 dan daging sapi pada 2026.

“Kita sudah berada di jalur yang tepat menuju visi kita saat Indonesia berusia satu abad,” tegas Suwandi.

Baca Juga :   Komite I DPD RI Anggap Riset Eucalyptus Temuan Penting

Seiring keberhasilan swasembada, Suwandi mengungkapkan kesejahteraan petani turut meningkat. Buktinya indikator kemiskinan di pedesaan turun 4,7%. “Awalnya penduduk miskin di desa pada Maret 2015 sebanyak 17.94 juta jiwa. Kini, pada Maret 2017 turun menjadi 17.09 juta jiwa,” ujarnya.

Langkah selanjutnya, Kementerian Pertanian terus melaksanakan proses struktural yang menjamin visi lumbung pangan dunia 2045 terwujud. Pertama, mengembangkan industrialisasi berbasis agro berdasarkan keunggulan komparatif. “Indonesia harus jaya kembali untuk kopi dan rempah-rempah. Integrasi aktivitas hulu-onfarm-hilir dibangun berbasis kawasan berskala ekonomi sehingga diperoleh nilai tambah dan pendapatan penduduk setempat,” jelas Suwandi.

Kedua, memperkuat infrastruktur sehingga memperlancar arus distribusi dari desa ke kota, di desa dibangun jalan, irigasi/embung, listrik, telekomunikasi, lembaga keuangan, pasar tani dan lainnya.

Baca Juga :   Peringati HUT RI ke-75, Ini Cara Para Petani Probolinggo Menggelar Upacara

Ketiga, industrialisasi di pedesaan akan menyerap banyak tenaga kerja, sehingga perlu peningkatan kapasitas SDM menjadi profesional dan produktif. SDM setempat dilatih menggunakan alat mesin, perbengkelan, jasa dan lainnya sesuai standar kompetensi.

Keempat, keterbatasan jumlah petani diatasi dengan mekanisasi. Kementan menyediakan 80.000 – 100.000 unit alat mesin pertanian setiap tahunnya. Melalui mekanisasi seperti traktor, poma air, rice transplanter, combine harvester dan Rice Milling Unit terbukti bisa menekan biaya hingga 40% waktu, tenaga, dan menurunkan susut hasil 4 – 8% dan meningkatkan mutu.

“Teknologi Mekanisasi inilah yang membuat generasi muda kini berminat terjun ke pertanian dan pedesaan, dan generasi muda pun merespons positif program Kementerian Desa-PDT kini,” tandas Suwandi.

Share :

Baca Juga

Berita

Aktivitas Merapi Meningkat, Ternak-ternak Warga pun Mulai Didata

Nasional

Pemerintah Hapus Subsidi Benih, Petani Makin Terhimpit

Nasional

Gagal Panen, Ekspresi Petani Jombang ini Hebohkan Dunia Maya

Inovasi

Startup Perikanan Berbasis IoT Buatan Alumni UGM Bersaing di Kancah Internasional

Nasional

Kembangkan Produksi Kopi, MPR Dukung Berdirinya Sekolah Pertanian di Ngada

Berita

Kementan: Pemerintah Terus Berupaya Dongkrak Harga Karet Rakyat

Berita

Budhy Setiawan: GOLKAR Ingin Kembalikan Cianjur sebagai Lumbung Pangan

Nasional

Bangkitkan Ekonomi Petani, HKTI Siap Bantu Petani di Tegal Stabilkan Harga