Dengan Teknologi Balitbangtan, Kebiasaan Lama Petani Dapat Diubah

  • Bagikan

Mediatani – Hadirnya teknologi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) di Kalimantan Tengah (Kalteng) membuat perubahan yang signifikan pada perilaku petani dalam mengolah tanaman padi.

Hal ini pun diakui Nor Dahniar, petugas penyuluh pertanian dari Desa Petak Batuah, Kecamatan Dadahup, Kabupaten Kapuas.

Dilansir dari SariAgri – Nor mengakui bahwa paket teknologi Balitbangtan berhasil mengubah kebiasaan lama petani, khususnya dalam penggunaan varietas dan pengolahan lahan.

“Tadinya petani di sini menanam padi lokal yang panennya setahun sekali, tapi sekarang mereka sudah mulai berubah menjadi setahun dua kali karena yang ditanam adalah varietas unggul yang umurnya lebih pendek,” kata Nor, Senin (29/3/2021).

Menurutnya, sejak petani dikenalkan dengan mekanisasi pertanian dan adanya bantuan dari Kementerian Pertanian, para petani di wilayahnya pun merasa sangat terbantu.

“Dalam mengolah lahan pun petani merasa terbantu karena adanya sarana produksinya dan alsintan termasuk mesin perontok yang disediakan oleh pemerintah,” tambahnya.

Di desanya dulu terdapat satu kelompok tani yang tidak pernah menanam padi unggul. Namun sekarang mereka mulai menanam Varietas Unggul Baru (VUB) Inpari 42 pada lahan seluas 20 hektare.

Produktivitas yang dihasilkan saat panen mencapai 5 ton per hektare berdasarkan ubinan. Hasilnya sangat meningkat dibandingkan sebelumnya yang hanya sekitar 1,5 ton per hektare, itu pun dipanen hanya sekali dalam setahun.

Tentunya tidak mudah mengubah kebiasaan petani yang telah mendarah daging. Sehingga butuh pendampingan secara terus menerus agar petani dapat menerima teknologi yang emmbawa dampak baik pada penghasilan mereka.

Dalam upaya mengenalkan varietas baru, para penyuluh bersama Balitbangtan harus membuat demplot. Di demplot tersebut petani dapat melihat padi unggul dengan umur yang pendek dan nilai ekonomis tinggi.

Dengan demplot itulah membuat petani percaya dan lebih mudah mengajak mereka untuk menanam varietas unggul. Karena dulunya petani berpikiran bahwa menjual padi unggul itu susah, harganya rendah dan rasanya kurang sesuai.

“Jika masih ada yang tetap ingin menanam varietas lokal, kita persilakan untuk dikonsumsi sendiri, namun varietas unggul patut dicoba dan hasilnya dijual, karena harga di pasaran juga cukup bersaing.” katanya.

Peneliti Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan), Susilawati menuturkan, di Kalimantan Tengah tingkat adopsi teknologi berbeda-beda ditingkat petani, sehingga perlu adanya pendampingan dan penyediaan demplot di setiap titik agar petani merasa dekat dengan teknologi yang dihadirkan.

Adapun teknologi tersebut yaitu pengelolaan tanaman secara terpadu (PTT) padi rawa dengan nama RAISA (Rawa Insentif Super Aktual).

Dalam RAISA, hadir komponen teknologi yang telah dihasilkan Balitbangtan, seperti penggunaan varietas, penggunaan amelioran, sistem tata air, rekomendasi pemupukan hingga pengendalian hama penyakit berdasarkan spesifik wilayah.

Melihat kajian khusus yang telah dilakukan Balitbangtan di lahan rawa pada lima kabupaten di Kalteng, dari beberapa komponen RAISA, pengelolaan tata air adalah salah satu komponen teknologi yang sulit diadopsi petani dan yang paling mudah diterima adalah varietas dan cara tanam jajar legowo.

“Untuk varietas unggul dan cara tanam jajar legowo hampir semua petani telah mengimplementasikannya secara mandiri, tapi untuk pengelolaan air masih sulit diadopsi karena perlunya keterlibatan pihak lain dalam pembangunan infrastrukturnya,” ungkap Susi.

Solusinya, petani diminta untuk menyiapkan petakan dan pintu-pintu air malalui program Padat Karya. Dengan itu, petani dapat diberdayakan dan sudah memahami bagaimana tata air satu arah yang baik di lahan rawa.

Namun jika pintunya tidak tersedia, maka petani perlu digiring lagi untuk dapat mengelola air dari petakan perorangan, petakan kelompok atau gabungan kelompok taninya.

 

  • Bagikan