Inovasi Lapas di Bengkulu, Usaha Ternak Ayam & Lele untuk Asah Keterampilan WBP

  • Bagikan
Usaha peternakan ayam petelur Lapas Curup 1/Via Antaranews.com/Foto:Nur Muhammad/IST

Mediatani – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIA Curup, Provinsi Bengkulu berinovasi dengan meluncurkan program pengembangan usaha peternakan ayam petelur dan budidaya ikan lele di wilayah itu.

Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham Provinsi Bengkulu, Imam Jauhari usai meresmikan program peternakan dan perikanan yang dinamakan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) di halaman Lapas Klas IIA Curup, Selasa (03/23/2021) mengatakan bahwa prorgam tersebut sangat positif dalam rangka mengembangkan keterampilan dan kreativitas serta meningkat perekonomian Warga Binaan Pemasyarakatan atau WBP.

“Tidak gampang melaksanakannya, karena WBP yang melaksanakannya harus memenuhi beberapa persyaratan seperti harus melalui sidang TPP, berkelakuan baik dan lainnya,” kata dia, melansir Jumat (26/3/2021) dari situs akurat.co.

Dia menuturkan bahwa dari pemantauan dirinya bersama rombongan pada usaha SAE oleh WBP Lapas Klas IIA Curup ini hasilnya pun cukup menjanjikan, di mana setiap harinya bisa menghasilkan 350 butir telur ayam dan bisa memenuhi konsumsi di dalam lapas setempat.

“Pihak Lapas bekerjasama dengan koperasi selanjutnya tidak perlu lagi membeli telur dari luar. Usaha peternakan ayam petelur ini merupakan program baru, selama ini kebutuhan telur ayam didatangkan dari luar seperti dari Palembang dan lainnya,” jelas dia.

Produksi telur dan usaha ikan lele ini pun nantinnya, lanjut dia, bakal memenuhi target Penerima Negara Bukan Pajak (PNPB) yang ditargetkan sebesar Rp19 juta. Para WBP yang juga terlibat akan menerima premi atau keuntungan serta keahlian bidang pertanian sehingga nantinya bisa diterapkan di daerah asalnya masing-masing saat keluar dari lapas.

Baca Juga :   Wamentan Harvick Hasnul: Target Presiden 1 Peternak Miliki 3 Ekor Sapi

Program SAE itu sendiri dilaksanakan oleh pihak Kemenkumham guna meningkatkan produksi lapas, salah satunya ialah di Lapas Klas IIA Curup dengan melakukan usaha peternakan ayam petelur dan budidaya ikan lele.

Sedangkan untuk lapas lainnya di Bengkulu, ada pula usaha mengembangkan bidang pertukangan, las dan usaha lainnya. “Program Sarana Asimilasi dan Edukasi ini menjadi wadah untuk membina dan mendidik WBP sebelum mereka keluar dan kembali ke masyarakat,” jelasnya, lagi.

Kendala-kendala dalam beternak ayam petelur

Nah, bagi Anda yang ingin beternak ayam petelur, ada baiknya mengetahui kendala-kendala dalam beternak ayam yang satu ini.

Jadi pastikan anda tahu dan paham perihal tantangannya, yang mana diulas oleh seorang yang berpengalaman di bidangnya.

“Di dunia peternakan ini, udara, air, sama pakan, adalah tiga hal yang harus diperhatikan dalam beternak ayam. Sebab, efeknya akan ke (kuantitas) produksi telur,” ujar Peternak Ayam Layer Kurniawan Unggul Pambudi kepada detikcom beberapa waktu lalu dikutip mediatani.co, Selasa (23/2/2021).

Baca Juga :   Sektor Peranian Beri Kontribusi Positif Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Kurniawan sendiri merupakan salah satu peternak milenial generasi kedua asal Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Pria yang kini berusia 30 tahun ini setiap harinya mengurusi manajemen kandang termasuk juga perihal pakan ayam untuk 13.000 ekor ayam layer yang diternaknya.

“Belum lagi ada tambahan nutrisi untuk ayam, terus vaksin agar (ke 13.000 ekor ayam ini) bisa terus produksi telur dan terhindar dari penyakit. Sementara, pakan saja dalam satu bulan untuk perseribu ekor ayam bisa habis Rp 300 juta,” jelas dia.

Di samping itu, dalam tiap produksi telur ayam ini, gejolak harga pakan seperti jagung di pasaran kerap kali menghantui usahanya, terlebih ketika tahun 2017-2019 lalu, yang mana membuat dirinya tergabung dalam kelompok Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (Putera) Blitar. Tujuannya, untuk mendapatkan subsidi demi kestabilan harga pakan.

“Saya daftar ke koperasi karena dibenturkan dengan harga jagung yang terus melambung tinggi sekitar Rp 6.000-an/kg dan harus adanya wadah atau organisasi membeli jagung subsidi pemerintah. Sebab, subsidi itu semuanya wajib untuk peternak dengan harga Rp 4.000 kala itu,” ungkapnya. Baca selengkapnya dengn klik di sini. (*)

Banner Iklan @a2tani.id
  • Bagikan
Banner Iklan Mediatani
Banner Iklan Mediatani