Home / Inspiratif

Senin, 16 Februari 2015 - 22:23 WIB

Mengenal Tanaman Paku Pakuan

MediaTani – Tanaman paku ( atau paku-pakuan, Pteridophyta atau Filicophyta ), adalah satu divisio tumbuhan yang telah memiliki sistem pembuluh sejati (kormus) tetapi tidak menghasilkan biji untuk reproduksinya. Alih-alih biji, kelompok tumbuhan ini masih menggunakan spora sebagai alat perbanyakan generatifnya, sama seperti lumut dan fungi.
Tanaman paku tersebar di hampir seluruh bagian dunia, kecuali daerah bersalju abadi dan daerah kering (gurun). Total spesies yang diketahui hampir 10.000 (diperkirakan 3000 di antaranya tumbuh di Indonesia), sebagian besar tumbuh di daerah tropika basah yang lembab. Tumbuhan ini cenderung tidak tahan dengan kondisi air yang terbatas, mungkin mengikuti perilaku moyangnya di zaman Karbon, yang juga dikenal sebagai masa keemasan tanaman paku karena merajai hutan-hutan di bumi. Serasah hutan tumbuhan pada zaman ini yang memfosil sekarang ditambang orang sebagai batu bara.

Morfologi Tanaman Paku

Bentuk tanaman paku bermacam-macam, ada yang berupa pohon (paku pohon, biasanya tidak bercabang), epifit, mengapung di air, hidrofit, tetapi biasanya berupa terna dengan rizoma yang menjalar di tanah atau humus dan ental (bahasa Inggris frond) yang menyangga daun dengan ukuran yang bervariasi (sampai 6 m). Ental yang masih muda selalu menggulung (seperti gagang biola) dan menjadi satu ciri khas tanaman paku. Daun pakis hampir selalu daun majemuk. Sering dijumpai tanaman paku mendominasi vegetasi suatu tempat sehingga membentuk belukar yang luas dan menekan tumbuhan yang lain.

Daur hidup (metagenesis) Tanaman Paku

Daur hidup tanaman paku mengenal pergiliran keturunan, yang terdiri dari dua fase utama:gametofit dan sporofit. Tanaman paku yang mudah kita lihat merupakan bentuk fase sporofit karena menghasilkan spora. Bentuk generasi fase gametofit dinamakan protalus (prothallus) atau protalium (prothallium), yang berwujud tumbuhan kecil berupa lembaran berwarna hijau, mirip lumut hati, tidak berakar (tetapi memiliki rizoid sebagai penggantinya), tidak berbatang, tidak berdaun. Prothallium tumbuh dari spora yang jatuh di tempat yang lembab. Dari prothallium berkembang anteridium (antheridium, organ penghasil spermatozoid atau sel kelamin jantan) dan arkegonium (archegonium, organ penghasil ovum atau sel telur). Pembuahan mutlak memerlukan bantuan air sebagai media spermatozoid berpindah menuju archegonium. Ovum yang terbuahi berkembang menjadi zigot, yang pada gilirannya tumbuh menjadi tanaman paku baru.
Tumbuhan berbiji (Spermatophyta) juga memiliki daur seperti ini tetapi telah berevolusi lebih jauh sehingga tahap gametofit tidak mandiri. Spora yang dihasilkan langsung tumbuh menjadi benang sari atau kantung embrio.

Share :

Baca Juga

Inspiratif

Jokowi Hidupkan Lagi Program Merauke Integrated Food and Energy Estate

Inspiratif

IPB Launching PPKS Pertama Di Indonesia
Bayam Hidroponik

Inspiratif

Urban Farming, Kesenangan yang Menjadi Cuan

Inspiratif

Permintaan Kopi Meningkat, Petani Merapi Kewalahan

Inspiratif

Kini Petani Bisa Atasi Paceklik Lewat Ponsel

Inspiratif

Padi Ciherang di Sragen Capai 11 Ton/Ha

Inspiratif

Cara bertanam Hidroponik dengan sistem Fertigasi

Inspiratif

11 Jabatan Eselon Satu Kementerian Pertanian Dilelang