Rici Solihin, Petani Muda Paprika

Mediatani – Panjangnya rantai distribusi sayuran dari tingkat petani ke konsumen akhir menjadi salah satu masalah utama yang dihadapi oleh petani kecil di pedesaan. Akibatnya, pendapatan petani menjadi sangat rendah yaitu berkisar rata-rata Rp12 juta per tahunnya atau di bawah upah minimum regional (UMR).

Banyaknya perantara alias tengkulak selain mengikis pendapatan petani lokal, juga menyebabkan biaya logistik meningkat. Waktu pengiriman barang menjadi lama serta kualitas barang berkurang. Masalah tersebut berdampak pada tingginya harga di tingkat konsumen akhir, namun tidak disertai dengan kualitas bagus.

Hal tersebutlah yang melatar belakangi Rici Solihin untuk membangun bisnis hortikultura yang bisa memangkas rantai distribusi hasil pertanian, khususnya sayuran. Usaha tersebut bernama Paprici Segar Barokah, sebuah usaha dalam bidang hortikultura dan makanan olahan di Bandung.

Selain memangkas rantai distribusi, Paprici dibangun untuk melayani konsumen Indonesia yang kebanyakan tergolong kalangan ekonomi menengah, yaitu sebagai konsumen yang berorientasi pada nilai produk, pelayanan prima serta harga yang kompetitif.

Paprici Segar Barokah

Usaha Paprici ini sebenarnya telah dirintis oleh Rici Solihin sejak masih mahasiswa.
Bermula dari usaha perdagangan yang diberi nama Segar Barokah, Seiring dengan meningkatnya permintaan untuk komoditas paprika tetapi tidak diiringi oleh pasokan yang stabil dari petani, Rici memutuskan membuka usaha pertanian paprika pada awal 2012 yang kemudian dia beri nama Paprici Segar Barokah.

Paprici Segar Barokah merupakan usaha pertanian sayuran antik seperti tomat cherry, timun kiury, daun mint, serta paprika sebagai komoditas utama. Namun, dia tidak menutup kemungkinan untuk komoditas lainnya.

Rici memiliki bekal, dengan latar belakang pendidikan yang menunjang yaitu pendidikan S-1 studi Manajemen dan Bisnis di Universitas Padjadjaran dengan konsentrasi kewirausahaan. Kemudian, jenjang S-2 di program studi Magister Ilmu Manajemen Universitas Padjadjaran dengan konsentrasi Manajemen Operasional yang berfokus pada Manajemen Rantai Pasok.

“Berbekal ilmu pengetahuan tersebut, akhirnya saya gunakan untuk membuat sistem Papri-GO atau Paprici Grocery Online yakni sistem penjualan secara Business to Consumer atau B2C guna menghubungkan langsung petani dengan konsumen yang saat ini telah dilakukan sebagian besar di area Bandung dan beberapa tempat di Jakarta,” jelasnya.

Dengan modal Rp 60 juta, pada 2012, petani muda paprika ini membangun sebuah rumah tanam berkerangka bambu seluas 500 m2. Rumah tanam itu mampu menampung 2.500 tanaman paprika. Ia menanam paprika dalam polibag berisi media tanam arang sekam.

Sebagai sumber nutrisi, Rici menggunakan pupuk hidroponik yaitu AB Mix. Penyiraman dan pemupukan dilakukan secara manual, yakni dengan menyiram media tanam. Paprika mulai berbuah pada umur 3 bulan. Rici memanen buah hingga tanaman berumur 8-9 bulan.

Rici menanam paprika secara bergilir. Jadi, bila tanaman di salah satu rumah tanam paprika siap dipanen, tanaman di satu rumah tanam lainnya baru setinggi paha orang dewasa atau berumur sekitar 2 bulan. Adapun rumah tanam lainnya baru saja selesai masa produksinya. Seluruh tanamannya dibongkar dan siap ditanamkan tanaman baru.

Dengan pola produksi bergilir itu, Rici rutin memanen rata-rata 1 ton paprika per bulan yang terdiri atas 600 kg paprika hijau, 300 kg paprika merah, dan 100 kg paprika kuning.

Baca Juga  Lahan Tidur Di Kota Pekanbaru Capai 45 Persen

Harga jual di tingkat petani mencapai Rp 10.000 – Rp 25.000 per kg untuk paprika hijau, Rp 40.000 untuk paprika merah, dan Rp 50.000 untuk paprika kuning. Omzet Rici dari perniagaan paprika rata-rata mencapai Rp 30 juta per bulan.

Rici mengatakan untuk omset per bulannya secara finansial tidak menentu karena fluktuasi harga paprika itu sangat tinggi antara Rp.15.000-Rp.40.000/kg, tetapi biasanya harga rata-ratanya Rp20.000/kg.

Hal itu membuat Paprici yang memiliki basis kebun di Desa Pasirlangu, Kab. Bandung Barat ini dikenal sebagai sentra pertanian paprika di Indonesia karena mampu memenuhi ±70% jumlah permintaan nasional. Saat ini pihaknya telah mendistribusikannya di area Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan dan bahkan pernah melakukan ekspor ke Singapura.

Adapun target market paling besar bagi Paprici saat ini adalah menjadi supplier bagi pasar tradisional secara B2B (business to business) dalam partai besar. Untuk cara sosialisasi dalam menjangkau target market B2B dilakukan melalui direct selling dengan penawaran secara langsung serta menerima permintaan secara online pada website resmi paprici.com.

Kemudian, target market tambahan melalui layanan Papri-GO di area terbatas di Bandung dan Jakarta dengan melakukan pemasaran melalui agen atau reseller yang telah mendaftar sebelumnya, untuk memudahkan distribusi barang. Selain itu, melalui event bazar yang diselenggarakan oleh instansi.

Rici membangun Paprici dengan motivasi membangun usaha dengan prinsip ekonomi berbagi (sharing economics) yang mulai banyak digalakan oleh anak muda. Prinsip yang sama dengan bertani, yakni berbagi. Nilai-nilai berbagi di sini dapat tercermin sejak mengutamakan kestabilan pangan lokal sebelum memenuhi permintaan dari luar yang tentunya bertolak belakang dengan konsep kapitalis yang merebak saat ini, dimana yang mempunyai kekuatan uang paling kuat maka akan menguasai segalanya.

“Berbekal pengalaman saya menjadi dosen praktisi di beberapa universitas yang ada di Jawa Barat dan DKI Jakarta serta mentor bagi 200 calon wirausaha muda di Jawa Barat dan Jakarta serta membina sekitar 30 petani di Bandung, Garut dan Tasikmalaya, maka saya berharap dapat menjadi role model sebagai petani mudsinergi dan kolaborasi dengan berbagai pihak sehingga tercipta kebersamaan,” kata Rici terkait motivasinya untuk ikut ajang pemilihan Duta Petani Muda.

Dia berharap, ke depan akan semakin banyak anak muda yang bangga menjadi petani muda dan mampu meningkatkan nilai pangan lokal serta dapat bersaing di pasar internasional.

“Harapan saya bagi para petani terus berjuang memperlihatkan bahwa petani itu tidak harus selalu identik dengan imej tua, kotor dan ketinggalan zaman melainkan petani masa kini itu adalah petani muda, bersih, modern dan tentunya sangat menguntungkan,” jelas Rici yang merupakan Juara 1 Duta Petani Muda Indonesia periode 2016.

Kesuksesan Rici membangun Paprici “dihadiahi” penghargaan Microentrepreneur of the Year (pengusaha terbaik) di ajang Citi Microentrepreneurship Awards (CMA) tahun 2018 –2019 yang diselenggarakan oleh Citi Indonesia (Citibank).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here