Home / Inspiratif

Rabu, 19 Agustus 2020 - 21:02 WIB

Petani Ponorogo Ini Menginspirasi Pemuda di Desanya dengan Bertani Labu Madu

Mediatani – Zaman sekarang, sebagian besar kalangan pemuda lebih memilih bekerja di perkantoran karena alasan kenyamanan atau jaminan penghasilan.

Namun, seorang pemuda Desa Glinggang, Sampung, Ponorogo, Putut Sudarsono (29) memiliki pandangan yang berbeda, ia lebih memilih menjadi petani labu madu.

“Awal mula nanam kerja sama dengan Pemdes, saya dimintai untuk jadi contoh pemuda disini, bertani,” tutur Putut dilansir dari detikcom, Selasa (18/8/2020).

Menurut Putut, bertani adalah salah satu cara untuk memanfaatkan sumber daya alam. Oleh karena itu, ia diharap dapat menjadi contoh agar pemuda di desanya juga dapat tergerak.

“Gimana caranya kita supaya bermanfaat bagi sekitar kita, tidak mencakup besar ya untuk diri sendiri,” ujar Putut.

Putut melanjutkan, kehidupan bangsa ini sangat membutuhkan peran dari petani.

Sebab, bahan pangan merupakan sumber utama untuk kehidupan.

Baca Juga :   Rainbow Garden Gowa, Mengubah Sawah Menjadi Taman Bunga

“Mati hidupnya bangsa ada di petani. Pangan adalah sumber utama kehidupan,” jelas Putut.

Ia menyebut alasan dirinya untuk menanam labu madu karena di Ponorogo belum ada yang menanamnya dan juga pumpkins butternut squash masa panennya lebih singkat.

Pumpkin butternut atau labu madu memiliki nama latin Cucurbita moschata. Selain bentuknya unik mirip kacang tanah, daging buahnya yang berwarna mentega itu memiliki rasa manis dengan tekstur lembut.

“Total ada lima titik lahan tanaman butternut ini di desa kami. Jumlah batangnya hampir 5 ribu,” ujar Putut.

Putut menjelaskan untuk satu batang biasanya menghasilkan empat kilogram butternut. Harga jual per kilogram mencapai Rp 7 ribu.

“Biasanya saya jual ke Jabar sama Jakarta. Selain buahnya, saya juga jual benihnya,” papar Putut.

Untuk satu titik berisi 800 batang, omzetnya diperkirakan mencapai Rp 30 juta lebih dengan masa tanam 80 hari.

Baca Juga :   Mentan Ajak Bank BUMN Untuk Kerjasama Bantu Kredit Petani

“Lebih mudah karena 80 hari sudah bisa panen, kalau melon atau semangka kan lebih. Sedang perawatannya juga lebih mudah dibandingkan melon dan semangka serta harga jualnya lebih stabil,” terang dia.

Namun, serangan hama pada batang tanaman juga kadang menjadi kendala yang dihadapi para petani ketika awal tanam. Tanaman umur 20 hari, kadang terkena keriting daun atau kena virus dan jamur.

Tak hanya enak, butternut juga baik untuk kesehatan karena mengandung serat yang tinggi, antioksidan, beta karoten, vitamin A dan B kompleks. Pun juga baik digunakan sebagai makanan pendamping ASI untuk bayi.

“Rasanya manis seperti ubi Cilembu. Setelah panen harus diolah lagi biasanya untuk bahan donat juga. Buah ini pun bisa bertahan hingga enam bulan setelah panen,” pungkas Putut.

Share :

Baca Juga

Inspiratif

Debu Vulkanik Sinabung Melebar, Tanaman Terancam Puso

Inspiratif

Terinspirasi dari Harvestmoon, Sarjana Fisipol UGM ini Memilih Jadi Petani

Inspiratif

Menteri Pertanian Siapkan Hujan Buatan

Inspiratif

Pergerakan Unsur Hara Tanaman

Inspiratif

Target Produksi Jagung 2015 Naik Lima Persen

Inspiratif

Pertanian Indoor Terbesar Di Dunia, Produksi Mencapai 100 Kali lebih Besar Dari Pertanian Biasa

Inspiratif

Pilot Project ISPO diarahkan Kepada Petani Riau

Inspiratif

Perbaiki Irigasi, Pemkab Karanganyar Alokasikan Dana 16 M