Home / Berita / Nasional

Jumat, 3 Juli 2020 - 17:15 WIB

RUU Omnibus Law Bawa Angin Segar Bagi Petani

RUU omnibu law cipta kerja beri dampak positif bagi petani

RUU omnibu law cipta kerja beri dampak positif bagi petani

Mediatani – Di antara hiruk pikuk diskusi Omnibus law yang nyaris luput dari perhatian itu, di dalam pembahasannya ternyata pertanian menjadi salah satu sektor yang cukup bisa memberi angin segar. Anggapan itu muncul karena pertanian dianggap menjadi sektor paling diuntungkan dengan keberadaan Rancangan Undang Undang (RUU) Cipta Kerja Omnibus Law ini. Dengan adanya RUU tersebut bakal membuka peluang investasi dan tentunya membawa dampak positif bagi petani.

Menurut Asian Development Bank, investasi pertanian di Indonesia masih kebanyakan berasal dari kelompok petani sendiri, sementara nilai investasi swasta masih sangat rendah. Total investasi asing hanya 0,01 persen dari total investasi swasta yang dikucurkan untuk pertanian.

Peneliti Center for Indonesia Policy Studies (CIPS), Felippa Ann Amanta mengatakan, semangat RUU Cipta Kerja adalah memangkas tumpang tindih regulasi yang selama ini dianggap menjadi penghalang masuknya investasi di sektor pertanian, salah satunya di subsektor holtikultura.

Baca Juga :   Petani Bawang Merah Sukses Modal Kecil Laba Berlipat Ganda

Menurutnya, regulasi yang berlaku selama ini tidak ramah terhadap investasi di sektor pertanian, salah satunya di subsektor hortikultura yang diatur dalam UU Nomor 13 Tahun 2010 tentang Hortikultura.

Ia berpendapat sejumlah pasal dalam RUU Cipta Kerja yang akan mengganti beberapa pasal di UU Hortikultura. Pasal 34 RUU Cipta Kerja misalnya, mengundang sarana hortikultura dari dalam dan luar negeri. Pasal tersebut akan merevisi pasal 33 UU Hortikultura yang mempersulit penggunaan sarana dari luar negeri.

Sementara itu, Pasal 100 RUU Cipta Kerja menyatakan pemerintah mendorong penanaman modal dalam usaha hortikultura, sebagaimana juga didapati di sektor perkebunan dan pertanian secara umum. Pasal tersebut akan merevisi Pasal 100 UU Hortikultira yang membatasi penanaman modal asing hanya untuk usaha besar hortikultura dengan jumlah modal maksimal 30%.

Baca Juga :   Petani Vietnam Nekat Bertani di Malam Hari, Ada Apa?

“Masuknya investasi dan sarana luar negeri ini bisa dimanfaatkan untuk mendorong produktivitas dan efisiensi di sektor pertanian. Hal ini tentu mendukung visi Indonesia menjadi lumbung pangan dunia di 2045,” ujar Felippa.

Menurut Asian Development Bank, investasi pertanian di Indonesia masih kebanyakan berasal dari kelompok petani sendiri, sementara nilai investasi swasta masih sangat rendah. Total investasi asing hanya 0,01 persen dari total investasi swasta yang dikucurkan untuk pertanian.

Tak hanya membuka investasi, RUU Cipta Kerja juga menyederhanakan proses perizinan usaha yang sebelumnya harus melewati birokrasi yang berlapis menjadi satu perizinan usaha dari pemerintah pusat. Kemudahan-kemudahan yang diatur dalam RUU Cipta Kerja ini diharapkan membawa dampak positif bagi petani dan pertanian di Indonesial.

Share :

Baca Juga

Berita

Pandemi Covid-19 Hilangkan Pasar Produk Bisnis Pertanian Hingga 80% di Bali

Nasional

Antisipasi Hama Wereng, Kementan Segera Gelar Bimtek dan Gerdal

Berita

Catatan SPI, Pelanggaran HAM Petani Di Indonesia Masih Tinggi

Berita

Komisi IV DPR Apresiasi Gerak Cepat Kementan tentang Harga Keledai

Nasional

Ibu-Ibu Pulau Kodingareng Unjuk Rasa Minta Gubernur Hentikan Penambangan Pasir
Menteri pertanian bercengkrama dengan petani di pedesaan (dok: Kementan 2019)

Berita

Kementan: Ketimpangan di Desa Menurun, Kesejahteraan Petani Meningkat

Nasional

Petani Untung, Gunakan Kartu Tani Bisa Tanpa Deposit

Berita

Bangka Belitung Mulai Kembangkan Rumput Laut