Sosis Buatan Mahasiswa Brawijaya Ini Berbahan Ikan Barakuda, Singkong dan Daun Kelor

  • Bagikan
Pembuatan sosis Basuke
Pembuatan sosis Basuke

Mediatani – Sosis yang dijual di pasaran pada umumnya menggunakan bahan pengawet yang mengandung zat berbahaya bagi kesehatan tubuh manusia. Pasalnya, kandungan nitrit pada bahan pengawet sosis tersebut bersifat toksik dan karsinogenik yang dapat memicu kanker dan merusak hati.

Fakta tersebut membuat lima mahasiswa Universitas Brawijaya, Malang, yakni Surya Rachman Susilowati, Erviana Shinta Dewi, Surya Dewa Ramadhan, Lalu Octavian Diandra, dan Yesica Wulanda Eka, terdorong untuk membuat produk olahan daging ikan yang aman dan sehat dan diberi nama “Sosis Basuke” sebagai bahan alternatif.

Untuk membuat produk Basuke itu, diperlukan waktu selama tiga bulan -sejak April 2021. Mereka mengawalinya dengan melakukan riset hingga jadi produk, dengan bantuan bimbingan dosen Qurrota A`yunin.

Kelima mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) itu membuat Basuke dengan menggunakan tiga bahan baku, yakni ikan barakuda atau ikan alu-alu (Sphyraena barracuda), singkong (Manihot esculenta), dan daun kelor (Moringa oleifera).

“Komposisi bahan baku yang paling dominan digunakan adalah ikan barakuda, sebesar 50 persen, tepung singkong dan daun kelor masing-masing 25 persen. Bahan pengawetnya alami dari cangkang atau karapas udang,” ungkap Surya, dilansir dari Tempo, Rabu 28 Juli 2021.

Baca Juga :   Singkong Impor Hancurkan Harapan Petani Lokal

Ikan barakuda merupakan salah satu jenis ikan laut yang kerap menjadi incaran utama para pemancing. Dengan ukurannya yang besar dan tenaga yang kuat, ikan pelagis ini dianggap cukup menantang bagi mereka.

Berdasarkan beberapa hasil penelitian, ikan barakuda memiliki kandungan vitamin B2 yang mampu menjaga sistem saraf, melancarkan metabolisme, meredakan gangguan kecemasan, membantu pembentukan hemoglobin, terapi diabetes, menyembuhkan peradangan, meningkatkan vitalitas pria, mencegah penyakit jantung, hingga menjaga kesehatan mata.

Sayangnya, menurut Surya, tidak banyak masyarakat yang begitu berminat untuk mengonsumsi ikan barakuda dan masih jarang dijadikan sebagai bahan pangan siap saji. Padahal, ikan barakuda biasanya dijual dengan hargai yang cukup murah.

Bahan lain yang dimanfaatkan Surya dan kawan-kawannya, yaitu daun kelor karena mengandung protein, karbohidrat, zat besi, magnesium, dan vitamin A.

Sementara bahan yang ketiga yaitu singkong atau ubi kayu. Bahan pangan ini dikenal kaya akan vitamin A, zat besi, fosfor, karbohidrat, kalium, dan lemak. Singkong mengandung jenis karbohidrat kompleks yang cocok dikonsumsi untuk diet.

“Singkongnya kami olah menjadi tepung,” sebut Surya.

Dalam proses pembuatan sosis ini, ketiga bahan utama tersebut difortifikasi atau ditambahkan dengan kitosan. Ini adalah senyawa organik turunan kitin yang sering dimanfaatkan untuk banyak keperluan di bidang industri. Senyawa kitosan ini dapat diperoleh dari kulit udang.

Baca Juga :   Pemerintah Dihimbau Kembangkan Inovasi Pemanfaatan Bioenergi dari Limbah Pertanian

Kitosan yang erdapat pada kulit udang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengawet alami pada sosis karena protein yang dikandungnya sebesar 25 – 40 persen, kalsium karbonat 40 – 50 persen, kitin 20 – 37 persen. Penggunaan kitosan ini sangat baik untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme perusak, melapisi produk yang diawetkan, sehingga minim sentuhan antara produk dan lingkungan di sekitarnya.

Sementara untuk mengemas sosis Basuke, tim peneliti dari Universitas Brawijaya menggunakan plastik yang hampa udara. Dengan plastik vacuum, pertumbuhan bakteri dan proses oksidasi dapat ditekan, sehingga produk terhindar dari kerusakan. Dengan kata lain, plastik hampa udara ini mampu memperpanjang masa simpan sosis tersebut.

Saat ini, sosis Basuke telah masuk dalam tahap pengujian proksimat atau kandungan nutrisi di Universitas Muhammadiyah Malang, serta pengurusan hak kekayaan intelektual.

Setelah itu, produk sosis ini akan melalui tahap pengajuan sertifikat dan logo halal ke Majelis Ulama Indonesia, serta pengajuan izin edar ke Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM. Jika segala prosedur telah dilewati, Basuke siap dipasarkan melalui lapak penjualan online dan promosi di akun media sosial.

Banner Iklan @a2tani.id
  • Bagikan
Banner Iklan Mediatani
Banner Iklan Mediatani