Kementan: Realisasi Program Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri (SIKOMANDAN) Berjalan Positif 

Busrah Ardan - Mediatani.co
  • Bagikan
Sumber foto: Antara/IST

Mediatani – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) kini terus berupaya menerapkan program Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri atau biasa disingkat SIKOMANDAN.

SIKOMANDAN pun yang merupakan bagian dari program lanjutan dari SIWAB ini dinilai berjalan positif dan signifikan.

“Program untuk peningkatan kelahiran, peningkatan produktifitas, pengendalian penyakit hewan, reproduksi, penjaminan keamanan, mutu pangan, serta proses distribusi dan pemasaran ini berjalan positif,” ujar Direktur Jenderal PKH, Nasrullah, melansir, Jumat (30/4/2021) dari laman Liputan6.com.

Ia menyampaikan bahwa realisasi SIKOMANDAN dari tahun 2017 hingga 2020 ini untuk capaian akseptor yang dilakukan inseminasi telah melebihi target, yakni sebanyak 15.095.704 ekor dari target sebanyak 12.495.007 ekor.

Sedangkan untuk kebuntingan ternak ada sebanyak 8.169.470 ekor dari target ternak bunting sebanyak 8.957.130 ekor, dan untuk kelahiran ternak sapi dan kerbau sebesar 7.040.160 ekor ternak dari target sebesar 7.470.661 ekor.

Sementara, untuk realisasi kegiatan pada tahun 2021 realisasi akseptor sampai dengan 27 April 2021 sebesar 1.361.117 ekor atau setara 34,03% dari target 4.000.000 ekor akseptor.

Kebuntingan ternak 834.642 ekor ternak yang bunting atau 30,98% dari target sebesar 2.714.283 ekor. Dan untuk kelahiran ternak sebesar 720.034 ekor atau 29,48% dari target 2.442.855 ekor .

Baca Juga :   Retas tengkulak, Kementerian Desa, PDTT luncurkan program prioritas

“Jika dinilai kelahiran ternak sapi dan kerbau selama kurun waktu 2017 hingga 2020 ini, dengan jumlah kelahiran ternak sebesar 7.760.194 ekor apabila dikalikan harga pedet perekor Rp6 juta maka pendapatan peternak yang didapat dari SIKOMANDAN adalah sebesar Rp46,5 triliun,” papar Nasrullah.

Berdasarkan data itu, sejatinya angka kelahiran masih perlu ditingkatkan. Maka, perlu lebih gencar lagi mensuskeskan program SIKOMANDAN dengan koordinasi antar pihak.

Seperti antar instansi, antar penangungjawab supervisi, antar dinas, antar bidang diperlukan untuk bekerjasama, bersinergi dalam menjalankan program SIKOMANDAN.

Harapannya pun agar timbul harmonisasi pemahaman untuk besama-sama membangun dan mensejahterakan peternak yang memiliki daya saing.

Dengan demikian SIKOMANDAN sebagai upaya menjadikan sapi-kerbau sebagai sumber bahan pangan khususnya daging bisa dilakukan secara keberlanjutan sesuai dengan potensi yang dimiliki.

“Salah satu kegiatan ekspos atau gebyar pameran hasil-kegiatan SIKOMANDAN adalah panen pedet atau output peningkatan kelahiran. Semoga dengan adanya kegiatan SIKOMANDAN secara berkelanjutan akan berdampak positif meningkatkan populasi ternak dan akhirnya kesejahteraan peternak akan meningkat,” harapnya.

Sebagai informasi, program SIKOMANDAN merupakan lanjutan dari program SIWAB yang sudah berjalan sejak tahun 2017 sampai dengan 2019, dan setelah 2020 menjadi SIKOMANDAN.

Baca Juga :   Pelelangan Ikan di Pantai Pasia Tiku Agam Menjadi Daya Tarik Wisata

Program ini didasari oleh keinginan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan daging dalam negeri dengan merangkul usaha peternakan rakyat, selain untuk mengurangi pasokan impor secara bertahap.

Terlebih, sapi potong dan kerbau merupakan salah satu sumber protein hewani yang sangat diminati masyarakat yang sebagian besar diusahakan dalam skala kecil atau sebagai usaha sambilan.

Sistem peternakan rakyat sebagai usaha yang terintegrasi dalam sistem usaha tani di pedesaan, mampu menjadi penopang ekonomi keluarga.

Dengan banyaknya peternak yang terlibat pada usaha peternakan, diharapkan kondisi tersebut dapat mempercepat pertumbuhan populasi, di samping menumbuhkan ekonomi kerakyatan terutama di pedesaan.

Usaha peternakan juga akan mendorong tumbuhnya kegiatan ekonomi hulu dalam penyediaan input produksi dan ekonomi hilir dalam kegiatan distribusi, pemasaran, pengolahan hasil dan jasa keuangan.

Oleh karena itu pembangunan peternakan diarahkan dalam satu sistem agribisnis yang terintegrasi dari hulu sampai hilir yang saling bersinergi baik secara vertikal maupun horizontal.

Kementan Dorong Industri Pakan Ternak Serap Jagung Petani

Kementerian Pertanian (Kementan) tengah bergerak dalam menstabilkan anomali harga jagung yang saat ini mengalami kenaikan di tingkat hilir.

Kenaikan ini pula, kini ditengarai berdampak pada kenaikan harga pakan dan daging unggas…baca selengkapnya dengan klik di sini. (*)

  • Bagikan