Keran Impor Dibuka, Petani Garam Surabaya Menolak

222
views
ilustrasi petani garam

Mediatani.co – Kran impor garam yang dibuka oleh pemerintah dalam upaya mengatasi lonjakan harga garam konsumsi dan industri, mulai dikeluhkan oleh para petani garam lokal di daerah.

Pasang iklan

Petani di kawasan Tambak Gendung, Surabaya, menolak rencana pemerintah mengimpor garam. Karena cuaca yang memasuki musim kemarau membuat tingkat keberhasilan panen akan tinggi. Petani garam khawatir, harga garam di tingkat petani semakin turun bila garam impor masuk membanjiri pasar.

Hal yang senada juga terjadi di Sedati Sidoarjo, Jawa Timur saat ratusan petani garam menolak kebijakan impor karena berimbas kepada merosotnya harga di tingkat petani.

Safiudin, petani garam mengeluhkan adanya penurunan harga garam serta serta berkurangnya permintaan garam dari pabrik, seiring mulai berlakunya kebijakan pemerintah terkait impor garam.

“Ya bagaimana, kita resah. Sejak pemerintah melakukan impor garam, harga di petani lokal Sedati-Sidoarjo menurun,” ungkapnya.

Apabila sebelumnya harga garam dari petani sekitar Rp175.000 per sak, kini turun menjadi Rp150.000 per sak. Kondisi tersebut diduga akibat kebijakan pemerintah yang mendatangkan garam impor pasca kelangkaan pasokan garam di daerah.

Selain itu Ia menambahkan akibat import garam, sejumlah pabrik garam juga banyak yang mengurangi permintaan garam ke petani garam lokal.

Selain menurunnya harga garam, petani juga mengeluhkan turunnya permintaan garam dari sejumlah pabrik garam di Jawa Timur. Tercatat sejak impor garam disetujui, permintaan garam dari pabrik garam menurun drastis hingga 50%. Menurut Safiudin, alasannya adalah karena harga garam impor lebih murah dibanding harga garam dari petani lokal.

Di sisi lain padahal, saat ini kondisi petani garam lokal di Sidoarjo tengah bersiap bakal melakukan panen raya.

“Ratusan petani garam lokal di sidoarjo berharap, agar pemerintah bisa membatasi impor garam sehingga permintaan garam hasil panen petani garam lokal bisa tetap tinggi yang berdampak pada kehidupan petani garam lokal di daerah,” terangnya.

Saat ini di Sidoarjo, Jawa Timur, harga garam di tingkat petani turun hingga Rp 50 ribu per sak atau 50 kilogram. Di Sidoarjo, ada 285 hektar tambak garam yang terancam kalah bersaing dengan garam impor asal Australia.