Mahasiswa Kreatif di Masa Pandemi, Dapat Hibah British Council hingga Buat Masker dari Sekam

  • Bagikan
Para mahasiswa yang berhasil menerima hibah dari The British Council/Via sindonews.com/IST

Mediatani – Mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad) berhasil meraih hibah dari Active Citizen Programme yang diberikan The British Council. Hibah diberikan untuk mendanai proyek pendampingan masyarakat dalam mengolah limbah ternak menjadi pupuk yang siap untuk dipasarkan.

Tim mahasiswa yang berhasil meraih hibah tersebut merupakan kelompok Bandung 1 program Tahapan Persiapan Bersama-Olah Kreativitas dan Kewirausahaan atau TPB-OKK Unpad yang diikuti mahasiswa baru tahun akademik 2020/2021.

Koordinator pelaksana program tersebut adalah Jonatan Calvin Hutabarat (antropologi) dengan penanggung jawab mitra Prof Muchtaridi.

Sementara anggota kelompok lainnya, yaitu Syahla Afaaf Alliyah (farmasi), Darin Nur Azizah (geofisika), Reva Salsabila (HI), Fadhlan Rasyadi A (perikanan), Amanda Putri (aktuaria), Mahatyanta Kalya Santika (kedokteran), Ananda Salma (teknik pertanian), Muhammad Faiz Fauzan Adzima (agroteknologi), dan Khantsa Qonita R (agroteknologi)

Muchtaridi menjelaskan, melalui hibah ini tim akan melakukan pendampingan terhadap para petani dari kelompok tani ternak di kampung Batulonceng, Lembang. “Kita dorong masyarakat untuk mengurangi limbah ternak dengan mengolahnya menjadi pupuk dan diwirausahakan,” kata Muchtaridi dalam keterangannya, Minggu (14/3/2021) dikutip mediatani.co, Rabu (17/3/2021) dari situs sindonews.com.

Mulanya, para mahasiswa hanya memberikan pandangan terkait solusi menangani limbah ternak. Pandangan tersebut kemudian disajikan dalam sebuah bentuk video sebagai salah satu laporan akhir dari program TPB-OKK Unpad.

Video ini kemudian terpilih sebagai video terbaik di antara seluruh kelompok OKK. Video ini juga direspons oleh pihak British Council Indonesia selaku mitra Unpad dalam modul “Active Citizens” yang diimplementasikan pada program TPB-OKK.

“Kelompok kita akhirnya bikin proposal dan akhirnya berhasil mendapat pendanaan,” kata Guru Besar Fakultas Farmasi Unpad tersebut.

Hibah senilai 992,89 Euro ini akan digunakan untuk mendanai proyek yang akan berlangsung selama tiga bulan. Melalui dana itu, tim akan membantu proses bisnis dari penjualan pupuk limbah ternak, serta membantu melakukan pelatihan manajemen pengelolaan keuangan kepada para petani.

Baca Juga :   Petani NTT Terancam Gagal Panen Akibat Serangan Ratusan Hama Belalang

Secara singkat, Active Citizens adalah program untuk membangun kepemimpinan sosial untuk memecahkan beragam persoalan di masyarakat. Diterapkan melalui mata kuliah OKK, mahasiswa didorong untuk menguasai berbagai keterampilan dasar dalam melakukan aktivitas sosial dan pemahaman masalah sosial di masyarakat, serta upaya yang dilakukan untuk menanganinya.

Sebelumnya, masih dikutip dari sumber yang sama, beberapa Mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad) juga meraih penghargaan tingkat ASEAN setelah membuat masker dari kain dengan bahan dasar jerami padi.

Mereka mengembangkan gagasan penelitian mengenai masker kain dengan efektivitas yang serupa dengan masker medis. Hasil penemuan mereka, dipublikasikan di ASEAN Innovative Science Environmental and Entrepreneur Fair, pada anuari-Februari lalu.

Alhasilnya, tim berhasil memperoleh medali emas dan penghargaan “Best Innovation” untuk kategori inovasi sains dan lingkungan.

Sebanyak 505 peserta dari 20 negara mengikuti kompetisi penemuan virtual yang diinisiasi lembaga Indonesia Young Scientist Association (IYSA) bekerja sama dengan lembaga saintis lainnya dari berbagai negara.

Mereka adalah lima mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Yaitu Rifky Adhia Pratama (Kimia), Riska Kurniawati (Biologi), Farrel Radhysa Muhammad Zahdi (Biologi), Didi Permana (Fisika), Muhammad Naufal Ardian (Fisika) serta dibantu tiga dosen pembimbing, Dr. Diana Rakhmawaty Eddy, M.Si., Allyn Pramudya Sulaeman, MT., dan Yudha Prawira Budiman, M.Sc .

Kelimanya itu menggagas ide masker dengan kombinasi katun 60% dan poliester 40% serta dilapisi dengan lapisan grafena dari sekam padi. Ide ini diwujudkan melalui riset yang masih berbasis literatur.

Rilis Kantor Komunikasi Publik Unpad, Rifky selaku ketua tim menjelaskan bahwa masker dengan komposisi 60% katun dan 40 % poliester diyakini mampu menghambat droplet dan aerosol dari luar. Apalagi dengan ditambah dengan adanya grafena yang dilapis di bagian permukaan masker.

Baca Juga :   Tips Beternak Lovebird Agar Cepat Bertelur

Berdasarkan literatur, lapisan grafena memunculkan sifat super hydrophobic atau sifat yang mampu menolak air. Ini dibuktikan dengan hasil pengukuran sudut kontak yang menunjukkan bahwa lapisan grafena memiliki nilai kurang lebih 141 derajat. Nilai ini melebihi acuan suatu material dikatakan hydrophobic, yaitu 90 derajat.

Menilik sifat penyebaran virus SARS-CoV-2 yang bisa bertransmisi melalui droplet (percikan) dan aerosol, adanya efek super hydrophobic akan optimal memblokir droplet maupun aerosol. Baik dari luar masker maupun jika pengguna masker merupakan penyintas COVID-19.

Selain itu, efek lain dari lapisan grafena pada masker adalah memunculkan aktivitas fototermal. Aktivitas ini memanfaatkan sinar matahari untuk mengatalisis suatu reaksi.

Rifky menambahkan, ketika masker kain dilapisi grafena, data menunjukkan bahwa proses fototermal di masker bisa mencapai 80 derajat, sehingga mampu menginaktivasi virus.

“Berdasarkan data jurnal yang kami peroleh, protein spike pada virus SARS-CoV-2 sangat sensitif terhadap suhu tinggi, sehingga lapisan masker kain mampu hasilkan efek fototernal yang akan berpotensi menginaktivasi virus,” ujar Rifky.

Pemanfaatan grafena dari sekam padi merupakan potensi yang unik. Sekam padi sendiri merupakan limbah yang kerap dihasilkan dari aktivitas pertanian. “Kita tahu Indonesia merupakan negara agraris. Setiap produksi beras akan menghasilkan 20 – 30 limbah sekam padi,” ungkapnya.

Dari studi literatur pun ditemukan bahwa sekam padi mengandung 30-40 karbon, zat yang menjadi cikal bakal dari grafena. Sayangnya, potensi ini masih belum dimanfaatkan dengan baik. Sekam padi biasanya masih digunakan untuk pakan ternak.

Selain itu, tak hanya sebagai pelapis masker kain, grafena dari sekam padi juga bisa dikomersialisasikan. Sebabnya, grafena sendiri memiliki nilai jual yang tinggi di tingkat global. (*)

  • Bagikan