Home / Inspiratif

Kamis, 16 Juli 2020 - 17:24 WIB

Walau Dihantam Pandemi, Pengusaha Sarang Walet Ini Raih Omzet Rp 30 Juta Per Bulan

Mediatani – Disaat banyak sektor usaha yang mengalami krisis saat pandemi Covid-19, sektor usaha sarang walet yang satu ini justru tetap menjanjikan walau dihantam wabah virus Corona.

Seperti salah seorang pengusaha sarang walet yang satu ini, Yanto Turede. Usaha yang dilakukannya di Kabupaten Bone Bolango ini, meraih omzet Rp30 Juta per bulan meski sedang berada di tengah pandemi Covid-19.

“Alhamdulillah omzet saya tetap Rp30 Juta per bulan,” ungkapnya bersyukur.

Malah Yanto sendiri mengaku masih kewalahan memenuhi permintaan 200 kilogram sarang walet perbulannya, dari Sumatera, Surabaya dan Jakarta sejak Desember 2019 lalu.

Yanto mengatakan peluang bagi yang ingin membuka usaha sarang walet di Gorontalo masih terbuka lebar, pasalnya karena saat ini Yanto hanya mampu memenuhi sekitar 20 kilogram sarang walet per bulan. Itu artinya, masih ada 180 kilogram lagi dibutuhkan.

“Alhamdulillah usaha sarang walet tak terpengaruh dengan Covid-19. Sekalipun dalam kondisi wabah Covid-19, permintaan sarang walet untuk Gorontalo tetap tinggi, saya diminta 200 kilogram per bulan. Tapi baru 20 kilogram yang saya mampu sediakan. Waktu itu bandara Gorontalo sempat tutup karena PSBB, jadi saya tetap mengirim lewat Manado,” ujar 

Yanto yang juga selaku Ketua Perkumpulan Petani Sarang Walet Nusantara (PPSWN) Provinsi Gorontalo saat diwawancarai awak media.

Per kilogram sarang walet, itu harganya berkisar Rp20 Juta sampai Rp25 Juta untuk yang sudah dalam keadaan bersih. 

Baca Juga :   Tips Membuat Tanam Rumah Minimalis

Sedangkan yang masih kotor harganya Rp12 Juta sampai Rp15 Juta per kilogramnya. 

Ketua Forum Karang Taruna (FKT) Kabupaten Pohuwato, Saharudin Saleh bersama Bendahara FKT, Fadel Mbuinga pun tertarik mengunjungi kediaman Yanto Turede di Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Kamis (18/6/2020) malam.

Di sela-sela agenda penyerahan bantuan untuk korban banjir, Yanto kemudian membagikan pengalamannya. 

Awalnya, Yanto yang berprofesi sebagai ASN hanya bermodalkan Rp50 Juta membangun gedung sarang walet ukuran 4 kali 8 meter di tahun 2013 silam. Setahun berikutnya, ia menambah satu bangunan gedung lagi dengan ukuran yang sama.

Dari situlah Yanto kini kemudian mempekerjakan lebih dari 10 orang karyawan di pabrik pencucian sarang walet miliknya di Kabupaten Bone Bolango.

“Usaha sarang walet ini juga bisa membuka lapangan pekerjaan dan tentunya akan mengurangi angka pengangguran,” terangnya.

Berapa Lamakah Usaha Sarang Walet itu Bertahan?

Usaha ini memang hanya mengandalkan burung walet yang kapan saja bisa bermigrasi ke daerah lain. Namun, Yanto mengatakan burung walet akan tetap bertahan di sarangnya asalkan ada ketersediaan pakan. Nah, daerah Gorontalo sangat potensial. Karena pakan burung walet adalah serangga.

“Gorontalo cukup potensial. Karena daerah kita dikelilingi sungai-sungai besar, ada danaunya, ada hutan lindung yang menjadi habitat serangga. Jadi tak perlu khawatir,” jelas Yanto meyakinkan.

Baca Juga :   Ini Alasan Petani Di Sumbar Enggan Jual Gabahnya Ke Bulog

Baru-baru ini, setelah Gorontalo tak lagi memperpanjang PSBB, Yanto dikunjungi investor dari China yang tengah mensurvei potensi walet di Gorontalo.

“Dengan jumlah 600 lebih bangunan sarang walet di Gorontalo, harusnya ke depan kita sudah bisa melakukan ekspor langsung ke luar negeri, karena tingginya permintaan kebutuhan sarang walet,” ungkap Yanto.

Nah saat ini, hasil sarang walet Yanto diberi merek DSAS Walet Gorontalo yang target pasarnya adalah Malaysia, Singapura, Thailand, Hongkong, Eropa dan Amerika.

Ia juga menambahkan, hasil sarang walet dari Gorontalo yang terdeteksi di Badan Karantina Pertanian Bandara Djalaludin, itu sekitar 600 kilogram per bulan. Itu tidak termasuk dengan pengiriman lewat Manado, Palu dan Makassar.

“Yah kalau ditotal bisa mencapai satu ton per bulannya untuk hasil sarang walet Gorontalo. Dan ke depan sasarannya adalah Tiongkok, karena Tiongkok adalah pasar besar sarang walet sejak 400 tahun lalu, sejak zaman dinasti raja-raja,” bebernya.

Sekedar diketahui, Yanto Turede juga adalah sebagai konsultan budidaya sarang walet yang memiliki lisensi dari konsultan walet Asia Tenggara, Arief Budiman. 

Selain itu, Yanto juga sebagai konsultan pabrik pencucian sarang walet yang sudah menerbitkan dua buku dengan judul, “Kiat Sukses Menjadi Konsultan Burung Walet” dan “Memproduksi Sarang Walet Kualitas Eksport”.

Share :

Baca Juga

Inspiratif

Mentan Klaim Produksi Beras Bertambah 1,4 Juta Ton

Inspiratif

Terinspirasi dari Harvestmoon, Sarjana Fisipol UGM ini Memilih Jadi Petani

Inspiratif

Menpupera Akui Ganti Rugi Lahan Jatigede Belum Selesai

Inspiratif

Tips Membuat Tanam Rumah Minimalis

Inspiratif

P2L, Solusi Ibu-ibu di Lembang Ciptakan Sumber Pangan di Lahan Sempit

Inspiratif

Tidak Ada Impor Beras Di Tahun 2015

Inspiratif

Cara Menanam Hidroponik Sederhana Dengan Sistem Rakit Apung (Water culture)

Inspiratif

Kementan Gandeng TNI AD Kawal Swasembada Pangan