Home / Berita / Nasional

Kamis, 14 Desember 2017 - 00:14 WIB

300 Ha Sawah Di Bali Rusak Dihantam Abu Vulkanik

thejakartapost.com

thejakartapost.com

Mediatani.co — Hujan abu vulkanik akibat erupsi magmatik Gunung Agung yang masih berlangsung hingga sekarang menyebabkan sekitar 300 hektar sawah milik petani di Bali rusak parah.

Akibat kondisi ini, sawah dipastikan tidak bisa berproduksi dengan baik, tujuh hektar di antaranya dipastikan gagal panen.

Berdasarkan penuturan dari Kepala Dinas Pertanian Karangasem, I Wayan Supandi, Rabu (13/12). Terdapat tiga kecamatan yang terkena dampak langsung dari abu vulkanik ini yakni kecamatan yakni Kecamatan Selat, Rendang dan Bebandem

Supandi menjelaskan, ada sekitar tujuh hektar tanaman padi yang terdampak dan dipastikan tidak bisa dipanen akibat diterjang banjir lahar dingin. Sementara itu,  kerusakan parah terjadi pada sawah-sawah yang berbatasan langsung dengan alur Sungai Yeh Sah yang berhulu di Gunung Agung.

Baca Juga :   Tak Terima STA Akan dirobohkan, Petani Bantul Pukul Mundur Alat Berat

Dengan situasi demikian, para petani pun terpaksa harus memanen lebih awal. Hal itu karena, tanaman padi yang rusak akibat abu vulkanik tersebut sebagian besar belum memasuki masa panen.

Sementara itu, petani juga harus mengalami kerugian yang cukup besar. Karena kondisi sawah yang rusak, otomatis kualitas gabah yang dihasilkan tentu di bawah standar. ‘’Di pasaran, gabah kering giling Rp 3.800 per kilogram. Kalau kualitasnya tidak standar tentunya harga akan di bawah itu,’’ ungkap Supandi.

Baca juga :  Hujan Abu Hingga ke Bangli, Intensitas Kecil

Dari kerusakan ini, Supandi belum bisa memastikan besaran total kerugian yang dialami oleh petani.  Menurutnya,  akibat eruspi gunung agung dan hujan abu vulkanik petani di ketiga kecamatan tersebut  harus menunda masa tanam.

Baca Juga :   Respon Cepat Kasus Pemalsuan Benih, Kementan Luncurkan Aplikasi Barcode Berbasis Smartphone

Sebagian besar petani bahkan membiarkan lahannya kosong untuk sementara waktu. Akan tetapi seperti di Kecamatan Sidemen, para petani mengambil opsi untuk menamam jenis tanaman lain seperiti palawija.

I Made Karang (52) salah satu petani dari Subak Sidemen mengaku telah menunda menunda masa tanam. Sebagai alternatif, dia memilih beralih ke tanaman palawija. Dia bersama rekannya memilih tidak menanam padi karena saluran irigasi Di Subak sementara waktu sedang ditutup untuk menghindari banjir lahar abu vulkanik. Selain berpotensi merusak saluran irigasi, lumpur abu vulkanik dapat merusak kualitas tanah. ‘’Untung sebelum hujan abu sudah panen. Sekarang masih menunggu,’’ ujarnya.

Share :

Baca Juga

Berita

Bulog Sub Divre Kedu Bakal Beli Gabah Lebih Dari HPP

Nasional

Beda Tugas dengan Mentan, Prabowo Mau Tanam Singkong 60 Ribu Hektar di Food Estate
Karlik, Petani Jual Kambing Demi Anak Bisa Belajar

Nasional

Mengharukan, Kisah Petani Jual Kambing Demi Anak Bisa Ikut Belajar Online

Nasional

Tanggapi Laporan Hama Wereng Coklat, Kementan Dorong Gerakan Pengendalian di Tanjab Timur

Nasional

Peneliti Buat Gambar Mata di Belakang Sapi, Ampuh Usir Predator

Inovasi

Inovasi Alumni ITB, Encomotion Buat Panen Dari 5 Jadi 20 Buah Kentang

Nasional

Anggaran Pupuk ke Petani Kalsel Dipotong untuk Covid-19
Menteri Amran (tengah) didampingi Gubernur Jatim Soekarwo (kanan) dan Dirjen Hortikultura Suwandi (kiri) (dok. kementan)

Agribisnis

Online Single Submission Percepat Bisnis Hortikultura, Mentan Luncurkan Tiga Produk Eksport