Pembicara media gathering IFADS 2019
Pembicara media gathering IFADS 2019, Kiri-Kanan: Prof. Bambang, Iskandar Andi Nuhung, Midzon Johannis, Irsan Rajamin, Agusdin Pulungan

Mediatani – Sektor pertanian merupakan bagian yang paling berperan dalam pemenuhan kebutuhan pangan manusia. Tantangan kedepan adalah bagaimana cara memenuhi kebutuhan pangan 300 juta penduduk Indonesia di tahun 2030 nanti?.

Iskandar Andi Nuhung, Chairman of Institute for Food and Agriculture Development Studies (IFADS) memantik pertanyaan tersebut dalam Media Gathering yang bertajuk “Strategi dan Kebijakan Pertanian di Indonesia 2019-2024: Pembangunan Pertanian di Era Industri 4.0 dan Kesiapan Milenial Menuju Indonesia Emas 2045” di Jakarta (12/12).

Iskandar Andi Nuhung mengungkapkan bahwa IFADS menyelenggarakan Media Gathering tersebut sebagai bentuk partisipasi sumbangsih pemikiran dalam rangka menguatkan sektor pertanian di Indonesia. Menurutnya, perlu sinergi lintas stakeholders untuk penguatan Pertanian di era industri 4.0.

“Media gathering ini penting, karena hubungan dan kerjasama yang baik dengan media akan bisa mendukung upaya-upaya dalam menyebarkan berita yang tepat untuk mendukung kemajuan pertanian Indonesia.” Ungkap Iskandar Andi Nuhung dalam sambutannya membuka Media Gathering.

Media gathering ini menghadirkan beberapa stakeholder sebagai pembicara. Midzon Johannis sebagai perwakilan dari Industri Perlindungan Tanaman dan Perbenihan. Irsan Rajamin, milenial penggerak pertanian dari Habibi Garden. Prof. Dr. Ir. Dadang. M.Sc sebagai Ketua Tim Teknis Komisi Pestisida. Tentunya juga Chairman of IFADS, Iskandar Andi Nuhung. Acara media gathering dipandu oleh Sekretaris Jenderal IFADS, Agusdin Pulungan, sebagai moderator.

Inskandar Andi Nuhung menjelaskan bahwa tantangan sektor pertanian tersebut dapat diselesaikan bersama, oleh kekuatan berbagai pihak. Oleh karena itu, semua stakeholders perlu bersinergi dan berkontribusi dalam bidang Food and Agriculture (FA).

“Tidak hanya pemerintah atau kementerian pertanian, tetapi juga penyuluh lapangan, pemerintah daerah, industri, akademisi, milenial maupun media. Untuk itu kami dari IFADS mengadakan berbagai aktivitas seperti diskusi dan dialog terkait Food dan Agriculture seperti hari ini,” ujar Andi Nuhung.

Jumlah penduduk Indonesia terus meningkat, bahkan diperkirakan mencapai 300 juta pada tahun 2030 dan tentunya kebutuhan pangan juga turut meningkat. Pemerintah harus mengantisipasi dengan langkah-langkah tepat untuk menyediakan pangan yang memadai, aman, dan berkualitas.

“Saat ini terlihat bahwa ada ketidak selarasan antara peningkatan produksi pangan kita dengan peningkatan kebutuhan pangan nasional. Betul bahwa produksi saat ini meningkat, akan tetapi kebutuhan pasar bahkan meningkat lebih pesat. Sehingga menjadi seperti ada gap di antara keduanya” imbuh Iskandar Andi Nuhung.

Berbagai upaya tentu perlu dilakukan, seperti meningkatkan produksi pertanian yang diselaraskan dengan program berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Pemerintah pun telah mempunyai Roadmap SDGs menuju 2030 yang sejalan dengan SDGs yang telah ditetapkan oleh PBB. Tujuan SDGs dalam bidang pertanian adalah mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan nutrisi yang lebih baik dan mendukung pertanian berkelanjutan.

Beberapa komitmen yang bisa dilakukan antara lain membuat tanaman menjadi lebih efisien, menyelamatkan lebih banyak lahan pertanian, membantu keanekaragaman hayati untuk berkembang, memberdayakan petani kecil, mendukung keamanan pangan bagi manusia, dan melindungi setiap pekerja.

“Untuk mewujudkan berbagai komitmen tersebut di Indonesia, maka perlu didukung Sumber Daya Manasia (SDM) khususnya petani dan penyuluh pertanian. Tantangannya adalah sebagian besar petani Indonesia berusia 45 tahun ke atas atau lebih. Tanpa adanya regenerasi, Indonesia terancam akan kekurangan SDM yang bekerja di sektor pertanian. Untuk itu pemerintah dan industri perlu mendorong generasi milenial untuk terjun di sektor pertanian,” tambah Iskandar Andi Nuhung.

Baca Juga  Pemerintah Hapus Subsidi Benih, Petani Makin Terhimpit

Faktor Usia bukanlah satu-satunya faktor berkurangnya sumber daya manusia di sektor pertanian Indonesia. Produktivitas yang rendah, yang disebabkan oleh kurangnya akses ke teknologi dan informasi pertanian modern, telah memaksa banyak petani untuk beralih ke pekerjaan yang lebih cepat menghasilkan.

“Bagi milenial, profesi petani identik dengan pekerjaan kasar, berkotor-kotoran dan berpenghasilan rendah. Sementara milenial sangat akrab dengan gadget, media sosial dan teknologi digital. Maka kami menawarkan solusi, bagaimana memanfaatkan teknologi pertanian 4.0 untuk menarik milenial agar mau terjun di sektor pertanian, “ ujar Irsan Rajamin, pendiri Habibi Garden, perusahaan startup di bidang pertanian yang telah menerapkan Internet of Things (IoT) untuk pertanian di Indonesia.

Founder Habibi Garden, Irsan Rajamin juga mempresentasikan beberapa proyeknya yang telah berhasil dalam pemanfaatan IoT. Ia mencontohkan keberhasilan Pak Sarwo, seorang petani cabe di Lampung, yang telah berhasil meningkatkat produksinya hingga 8 ton per hektar setelah memanfaatkan teknologi digital kreasi Habibi Garden dalam pemantauan kebutuhan air pada tanaman cabe.

Sementara itu, pembicara dari kalangan Industri Perlindungan Tanaman dan Perbenihan, Midzon Johannis memaparkan pentingnya riset dan pengembangan untuk menjawab tantangan sektor pertanian modern di Indonesia ke depan. Midzon yang juga Head of Business Sustainability PT Syngenta Indonesia, menjelaskan bahwa Syngenta Indonesia menjadikan riset dan perspektif petani sebagai aspek fundamental dalam pengembangan teknologi perlindungan tanaman dan benih.

Data riset yang dihasilkan menjawab kontribusi teknologi Syngenta terhadap kualitas dan keamanan pangan, peningkatan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani serta penanganan tantangan lingkungan pertanian.

“Kami juga mempunyai banyak program yang mendukung Kementerian Pertanian untuk meningkatkan kapasitas petani kecil seperti meningkatkan produktivitas melalui Klub 10 Ton, menyusun rantai pasokan terpadu dan model pembiayaan mikro, mengadakan pelatihan bagi Usaha Kecil Menengah dalam program Partner Grow, pelatihan manajemen keamanan dan kesehatan bagi petani dalam program Stewardship, mengadakan Pusat Pembelajaran Pertanian Syngenta (Syngenta Learning Center), dan Expo pertanian di berbagai wilayah di Indonesia,” kata Midzon Johannis.

Profesor Dr. Ir. Dadang, M.Sc., sebagai Ketua Tim Teknis Komisi Pestisida mengungkapkan bahwa potensi sektor pertanian di Indonesia masih sangat besar karena Indonesia merupakan salah satu pusat mega diversity tanaman pangan di dunia, beriklim tropis, bisa bercocok tanam sepanjang tahun, beraneka jenis tanaman pangan dan perkebunan bisa tumbuh, dan mempunyai potensi pasar yang besar.

“Pada waktu krisis 98 satu-satunya sektor yang surplus hanya pertanian. Karena itu kita bisa bertahan,” ujarnya menambahkan.

Profesor Dadang menuturkan bahwa masalah hama dan penyakit tanaman merupakan masalah yang lebih serius dibanding ketersediaan pupuk atau kesuburan lahan. Hal itu terjadi karena perubahan iklim sangat mendukung perkembangan hama, pathogen, dan gulma berkembang cepat. Oleh karena itu penggunaan pestisida yang menjadi bagian integrated farming system menjadi penting peranannya.

“Indonesia merupakan negara yang bisa ditumbuhi oleh segala jenis tanaman, tetapi terkadang kita lupa juga bahwa Indonesia menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi hama yang menyerang tanaman” imbuh Prof. Dadang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here